Surabaya (rphsurabaya.co.id) - Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya menegaskan bahwa transisi pemotongan sapi ke RPH Tambak Osowilangon (TOW) akan dilakukan melalui komunikasi dan pendekatan persuasif. Hal tersebut disampaikan Direktur Utama RPH Surabaya, Fajar A. Isnugroho, dalam dialog yang disiarkan JTV, Kamis (22/1).
Fajar menjelaskan, ruang komunikasi ini akan terus dibuka melalui dialog bersama mitra jagal dengan melibatkan Pemerintah Kota Surabaya dan DPRD Surabaya guna mendukung kelancaran proses adaptasi. “Saya berharap mitra jagal ini diberi waktu untuk mencerna dan beradaptasi dengan kesepakatan-kesepakatan baru. Yang penting komunikasinya kita buka,” ujar Fajar.
Ditegaskan Fajar, hingga akhir Ramadan, Mitra Jagal masih bisa memanfaatkan RPH Pegirian. Setelah Idulfitri, pemanfaatan RPH Unit TOW akan dijalankan penuh. “Kami tetap memberi kesempatan kepada Mitra Jagal untuk memanfaatkan RPH Pegirian sampai akhir Ramadan. Setelah Idulfitri, sesuai perencanaan dan arahan Pak Wali Kota, kami akan memanfaatkan RPH Tambak Osowilangun secepatnya,” ujarnya.
Menjawab kekhawatiran mitra jagal terkait jarak RPH TOW yang dinilai lebih jauh dari Pasar Daging Arimbi, Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan solusi berupa armada angkutan daging gratis. Armada ini disiapkan untuk memangkas biaya distribusi yang selama ini menjadi beban bagi mitra jagal.
“Kami memahami keresahan jagal karena jarak yang lebih jauh bisa menambah biaya. Karena itu Pemkot memberikan solusi berupa alat transportasi daging,” jelasnya. Armada yang digunakan berupa mobil box tertutup dengan gantungan daging, yang dapat mengirimkan hasil pemotongan dari RPH TOW ke Pasar Arimbi sesuai kebutuhan jagal.
Ditambahkan Fajar, aktivitas pemotongan umumnya dimulai sekitar pukul 12 malam, sehingga pengiriman diatur agar daging sudah tiba di pasar sebelum subuh. “Biasanya motong jam 12 malam. Harapannya sekitar jam 3 atau setengah 4 pagi, daging sudah bisa keluar dari Tambak Osowilangon. Jadi mitra jagal masih punya waktu menempatkan dagingnya di Pasar Arimbi maupun pasar tradisional lainnya,” ungkap Fajar.
Untuk itu, saat ini RPH Surabaya juga tengah melakukan pendataan jumlah jagal yang berminat menggunakan fasilitas RPH TOW. Pendataan ini menjadi dasar perhitungan kebutuhan armada dan operasional ke depan. “Kami perlu kepastian berapa jagal yang akan menggunakan, supaya kami bisa menghitung operasionalnya, termasuk jumlah armada yang dibutuhkan,” ujarnya.
Pihaknya juga menegaskan bahwa pengalihan aktivitas pemotongan sapi ke RPH Tambak Osowilangon (TOW) dilakukan tanpa paksaan. Para jagal tetap diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, apakah akan memanfaatkan fasilitas pemotongan di Unit TOW atau tidak. “Kami tidak bisa memaksa. Jagal yang mau menggunakan fasilitas di TOW, silakan. Kalau memilih berpindah ke tempat lain, juga tidak apa-apa,” tegas Fajar.
Fajar menekankan bahwa hubungan antara RPH dan jagal adalah kemitraan yang saling membutuhkan dan tidak bisa dipisahkan. “Jagal itu mitra. RPH dan jagal satu kesatuan. Kami membutuhkan jagal, jagal juga membutuhkan RPH sebagai tempat pemotongan,” pungkasnya.(ant)
Komentar Terakhir